Ketua Muslimat NU Surabaya Lilik Fadhilah

Jatimundercover.com – Proyek pengerjaan Frontage Road (FR) Barat yang digarap oleh Pemkot Surabaya salah satu agendanya adalah membebaskan lahan di depan Rumah Sakit Islam (RSI) dan SMA Khadijah di Jalan Ahmad Yani Surabaya. Hasil pembebasan lahan milik Muslimat NU yang dikelola Taman Pendidikan (TP) Khodijah tersebut menelan biaya sebesar Rp 35 miliar.

Namun, dana segar yang masuk ke kas Muslimat NU Surabaya tersebut kabarnya dipotong untuk bancaan segelintir pimpinan banom NU tersebut. Untuk memuluskan usaha jahat tersebut, kabarnya pucuk pimpinan Muslimat NU berkongsi dengan pimpinan PCNU Surabaya dengan dalih membeli tanah bodong agar proyek mereka berjalan mulus dan tidak dicurigai pengurus lainnya.

Untuk mengonfirmasi isu panas ini, akhirnya tim jatimundercovercom mulai menghubungi pihak-pihak terkait. Salah satunya Ketua PCNU Surabaya Muhibbin Zuhri dan Ketua Muslimat NU Lilik Fadhilah. Kabarnya, proyek senilai miliaran ini dijadikan bahan bancaan sebagian oknum yang dimotori oleh kedua pimpinan tersebut, utamanya dalam mengelola anggaran dari Pemkot. Namun, kedua pimpinan tersebut selalu menghindar dan terkesan menolak untuk diwawancarai perihal isu pencucian uang dengan modus membeli tanah bodong itu.

Ketua PCNU Surabaya Muhibbin Zuhri dianggap sebagai salah satu aktor yang memuluskan proyek tersebut

Setelah ditelusuri isu tentang dugaan pencucian uang melalui pembelian tanah itu, melalui informan yang tidak ingin namanya ditampilkan mengatakan bahwa tanah yang dibeli merupakan tanah warisan milik Kyai Kusen. Caranya memanfaatkan sisa lahan tanah olor yang berada di kawasan Gunung Anyar, Surabaya milik Kyai Kusni untuk pencucian uang sebesar Rp 10 miliar.

“Tanah yang dibeli oleh mereka merupakan tanah yang tidak diketahui oleh ahli warisnya kyai Kusen di Gunung Anyar. Dari sinilah saya mulai curiga, kenapa ahli warisnya tidak mendapatkan uang sepeserpun. Padahal itu hak mereka (ahli waris),” ungkap salah satu informan yang tidak mau disebutkan namanya.

Awalnya, menurutnya tanah warisan milik Kyai Kusen ini dijual untuk pembangunan Rusunawa di kawasan Gunung Anyar tersebut. Namun, ketika pengukuran tahap awal pihak keluarga Kyai Kusen hanya memperkirakan luas tanah yang akan dijual 1,4 hektar. Tetapi setelah dilakukan pengukuran tahap kedua, tanah yang awalnya diperkirakan hanya seluas 1,4 hektar tersebut meluas menjadi 2 hektar.

Disinilah proyek pengelolaan uang pembebasan tanah di depan RSI dan SMA Khadijah mulai dirancang sedemikian rupa. Untuk memuluskan rencana busuk tersebut, Ketua Muslimat NU Lilik Fadhilah dan Ketua PCNU Surabaya Muhibbin Zuhri membuat tim 9 agar rencana mereka rapi dan tidak diendus pengurus lainnya. Tugas dari tim 9 ini mengeksekusi uang hasil pembebasan lahan itu. Modusnya, tanah warisan Kyai Kusen yang menyisakan lahan seluas 0,6 hektar tersebut dibeli dengan harga tinggi.

Tidak tanggung-tanggung, tanah yang tidak sampai sepetak itu dihargai Rp 10 miliar dan diambilkan dari uang pembebasan lahan pengerjaan Frontage Road (FR) Barat yang rencananya dibuat pelebaran jalan. Mirisnya, tanah yang dibeli tersebut tidak sepeserpun uang masuk ke dalam kantong keluarga Kyai Kusen. Karena, Lilik Fadhilah berkongkalikong dengan Bendahara PCNU Surabaya Nasrullah, menantu dari Kyai Kusen, yang mempunyai kedekatan dengan ketua tim 9 Muhibbin.

Nazrullah bertugas sebagai pemilik tanah ‘bodong’ yang dibeli oleh tim 9

Tim 9 yang beranggotakan Ketua PCNU Surabaya Muhibbin, Ketua Muslimat NU Lilik Fadhilah, Abdul Halim, Bendahara PCNU Surabaya Nasrullah Aziz, Sekretaris PCNU Hamzah, Wakil Sekretaris PCNU Surabaya Faishol, Bendahara Muslimat Laili Munawarah, Mujib dan Imron inilah yang menikmati hasil kejahatan tersebut. Mereka membagi hasil pembelian tanah bodong tersebut.

Muhibbin disebut-disebut mendapat mobil Camry, Faishol mendapat mobil Land Ronger, dan sisanya bergantung kepada sekrusial apa peran mereka dalam menggolkan ide pencucian uang secara terlembaga ini.

Setelah mendapat bagian masing-masing, para oknum ini mulai menutup rapat hasil kejahatan berkedok korporatif itu. Pembelian tanah bodong di Gunung Anyar menggunakan uang Muslimat NU Surabaya ini merupakan kejahatan yang dikordinir dengan dalih keputusan organisasi. Padahal, ini merupakan kepentingan pribadi dan menguntungkan sebagian pengurus NU dan Muslimat NU Surabaya.

Namun, hingga saat ini kasus ini belum terendus oleh pengurus PCNU Surabaya maupun pengurus Muslimat NU Surabaya. Barangkali, kedekatannya dengan Partai DPC PDIP Surabaya menyebabkan kasus ini belum mencuat ke publik. Karena sudah menjadi rahasia umum jika Muhibbin dan Lilik Fadhilah mempunyai hubungan khusus dengan Ketua DPC PDIP Surabaya Aji Sutarwijono. Apalagi, dalam Pilwali 2020 mendatang, kabarnya Aji mengiming-imingi Muhibbin maupun Lilik diprospek sebagai calon wakil Walikota Surabaya.    

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here