Capres dan Cawapres Nomer Urut 2, Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno

Jatimundercover.com – Baru-baru ini tagar #SandiwaraUno viral di twitter gegara kunjungannya ke pasar Kota Pinang, Labuhan Batu, Sumatera Utara. Spanduk bertuliskan “Pak Sandiaga Uno, Sejak Kecil Kami Sudah Bersahabat JanganPisahkan Kami Gara-gara Pilpres Pulanglah!!!” hanya direspon oleh Sandi dengan senyum kecut.

Namun bukan spanduknya yang membuat viral tagar #SandiwaraUno, melainkan video yang mempertontonkan salah satu anggota BPN Prabowo-Sandi yang melarang untuk menurunkan spanduk tersebut.

Aksi penolakan pasangan calon untuk Pilpres 2019 ketika kampanye sudah biasa terjadi. Namun, untuk kasus ini pihak Prabowo dan Sandiaga Uno dianggap merekayasa dan bersandiwara.

Bukan hanya sekali dua kali tim Prabowo-Sandi melakukan blunder untuk menciptakan plying victim. Berbagai isu dilontarkan secara dangkal tanpa menimbang isi atau manfaat bagi kualitas demokrasi kita. Sehingga, kontestasi demokrasi kali ini menyisakan ironi manakala hoax dan drama-drama tak perlu dipertontonkan di ruang publik.

Berikut hasil penelusuran tim jatimundercovercom berkenaan dengan manuver yang dilakukan oleh Prabowo dan Sandiaga beserta tim suksesnya.

  • Prabowo Ramalkan Indonesia Akan Bubar Tahun 2030
Prabowo ramal Indonesia bubar 2030

Postingan pidato Prabowo yang berdurasi 1 menit 13 detik yang diunggah di Facebook dan Twitter resmi Partai Gerindra tidak berselang lama membuat kehebohan dan kegaduhan warga netijen. Dalam pidatonya, Prabowo yang mengenakan baju warna putih dengan lantang menyebut Indonesia akan bubar tahun 2030.

Apa yang diharapkan dari efek pidato tersebut? Apakah sebuah kepanikan dari Prabowo atau ia ingin menciptakan efek domino dari isi pidatonya tersebut? Efek domino merupakan teori yang dianut oleh kaum machiavellian dengan meyakini bahwa perubahan kecil akan menjadi besar karena adanya reaksi berantai. Barangkali inilah yang diinginkan Prabowo dan partainya.

Terlepas dari rujukan yang dikutip oleh Prabowo yang berasal dari novel fiksi “Ghost Fleet” yang ditulis Peter Warren Singer dan August Cole tahun 2015. Sepertinya ia ingin menyampaikan kepada publik bahwa ia ingin membunuh karakater lawan politiknya. Dan, memberi sinyal kepada rakyat jika pemerintah yang berkuasa hari ini tidak mampu lagi menjaga NKRI dari kasus horizontal yang berbau SARA.

  • Sandiaga Uno Melangkahi Makan Pendiri NU
Langkahi makam Pendiri NU, Sandiaga Uno Didemo Santri Jombang

Niat hati ingin mendapat simpati warga NU, Sandiaga Uno malah mendapat kecaman masyarakat JawaTimur gara-gara melangkahi makam pendiri NU, KH Bisri Syansuri. Di dalam postingan video yang berdurasi 15 detik, Sandi yang mengenakan sarung dan berkopiah hitam awalnya menabur bunga di makam tokoh yang dikagumi oleh wargaNU tersebut. Tidak berselang lama, Sandi tampak melangkahi makam tanpa merasa bersalah. Awalnya, Sandi tidak menyadari jika melangkahi makam dianggap biasa-biasa saja. Barulah setelah video tersebut viral dan mendapat desakan dari warga NU untuk meminta maaf, akhirnya ia meminta maaf secara terbuka.

  • Ratna Sarumpaet dan Hoax yang Terbongkar
Ratna Sarumpaet, tokoh utama drama pemukulan yang berujung hoax

Kabar Ratna Sarumpaet dianiya orang tak dikenal berawal dari akun Facebook bernama Swi Utami Dewi. Unggahan ini disertai sebuah tangkapan layar yang berisi dari aplikasi pesan WhatsAppp ada 2 Oktober 2018 serta foto Ratna. Sayangnya, unggahan tersebut kini telah dihapus.

Tak ayal, unggahan ini mendapat pembenaran dari politisi Gerindra sendiri maupun tim BPN Prabowo-Sandi. Mulai dari Rachel Maryam hingga Fadli Zon dan Dahnil Anzar Simanjuntak. Bahkan, melalui akun pribadinya @fadlizon, Wakil Ketua Umum Partai Gerindra itu menegaskan jika penganiayaan terhadap Ratna Sarumpaet dilakukan oleh dua sampai tiga orang. “Jahat dan biadab sekali,” kata dia melalui cuitannya.

Tak berhenti di situ, Ketua Umum Partai Gerindra sekaligus calon presiden 2019 Prabowo Subianto turut memberikan pernyataan mengenai kabar dikeroyoknya Ratna Sarumpaet pada Rabu malam, 3 Oktober 2018. Saat itu, Prabowo sempat mengatakan bahwa tindakan terhadap Ratna adalah tindakan represif dan melanggar hak asai manusia. Prabowo bahkan ingin bertemu dengan Kapolri Jenderal Tito Karnavian untuk membicarakan mengenai dugaan penganiayaan yang dialami Ratna Sarumpaet di Bandung, Jawa Barat itu.

Namun begitu, aksi teatrikal yang diperankan oleh Ratna akhirnya terkuat ketika pihak kepolisian membongkar kasus tersebut.

  • Pengakuan La Nyalla Membangun Persepsi Jokowi PKI pada Pilpres 2014
La Nyalla akui sebagai penyebar isu Jokowi PKI pada Pilpres 2014

Isu Jokowi PKI sengaja dihembuskan tatkala ia maju menjadi Presiden pertama kalinya dan berhadapan dengan Prabowo Subianto. Melalui tabloid bernama “Obor Rakyat” terbitan Mei 2014 dengan judul “Capres Boneka” dengan karikatur Jokowi mencium tangan Megawati Soekarnoputri. Obor Rakyat menyebut Jokowi sebagai simpatisan PKI, keturunan tionghoa dan kaki tangan asing. Dalam sekejap tabloid tersebut menghebohkan masyarakat kala itu.

Memasuki Pilpres 2019, publik terhenyak dengan pengakuan dari salah satu eks kader Gerindra La Nyalla yang secara terang-terangan mengaku bahwa dirinya yang menyebarkan tabloid Obor Rakyat di Jawa Timur, Selasa (11/12/2018). Tentu hal ini membuka tabir siapa dalang dibalik masifnya tabloid hoax tersebut.  

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here