Demokrat Usung Khofifah Hanya Ingin Selamatkan Pakde Karwo

0
126

Surabaya – Sudah menjadi rahasia publik, kepala daerah seperti bupati, wali kota dan gubernur terjebak dalam pusaran kasus korupsi. Deretan kepala daerah yang masuk dalam pusaran korupsi di Jawa Timur adalah Wali Kota Madiun Bambang Irianto, Bupati Nganjuk Taufiqurrahman, Waliota Bantu Eddy Rumpoko dan Bupati Pamekasan Achmad Syafii. Apakah hanya itu? Tentu tidak, masih banyak lagi kepala daerah di luar Jatim yang juga masuk buih seperti Gubernur Bengkulu Ridwan Mukti, Bupati Klaten Sri Hartini dan 33 kepala daerah yang jadi tersangka kasus korupsi sepanjang 2015-2017.

Kemudian apa kaitannya dengan Pilgub Jatim mendatang?. Sekelompok mahasiswa yang biasa nongkrong di Trotoar jalanan Surabaya mencoba melakukan analisa, dan yang menarik adalah seorang mahasiswa nyletub Demokrat Usung Khofifah Hanya Ingin Selamatkan Pakde Karwo (Gubernur Soekarwo)”. Tentu pernyataan tersebut mengundang tanya.

Mahasiswa yang bisa disapa Komeng menjelaskan pernyataanya tersebut. Menurutnya, Partai yang dinahkodai Mantan Presiden dua periode tersebut mengusung Khofifah Indar Parawansa karena tidak ingin kader terbaiknya Soekarwo dalam posisi tidak aman usai lengser dari kursi gubernur.

Masih lanjut dalam diskusi, Komeng mengatakan, Demokrat sebelum jatuhkan pilihan kepada Khofifah tentu melakukan analisis SWOT (strengths, weaknesses, opportunities, dan threats).

Demokrat tentu melihat, wakil Pakde Karwo saat ini, Saifullah Yusuf (Gus Ipul) yang maju sebagai Cagub Jatim mendapat rintangan besar, karena musuh bebuyutan Soekarwo, Khofifah dalam Pilgub Jatim 2008 dan 2013 kembali mencalonkan diri sebagai Cagub Jatim ketiga kalinya. Tentu kondisi tersebut mengkhawatirkan. Jika Khofifah berhasil menang dalam perebutan kursi Jatim satu, tentu akan berdampak pada terbongkarnya cacatan hitam Pakde Karwo selama 10 tahun memimpin (namanya juga musuh bebuyutan). Namun jika Gus Ipul menang, Pakde Karwo akan aman-aman saja karena ia teman yang setia menemani selama dua perionde pemerintahannya, dan tentu catatan hitam itu akan tertutup rapat.

Karena itu, Demokrat mensiasatinya dengan mengambil sikap mendukung Khofifah (tentu dengan kontrak politik penuh muslihat). Sikap tersebut mengibaratkan demokrat berjalan dengan dua kaki, siapapun yang akan mencapai finis, jadi gubernur, maka Pakde Karwo tetap dalam posisi yang aman dan tidak ada yang mengusik di masa pensiunnya.

Begitulah hasil analisa mahasiswa trotoar Surabaya dalam mengisi waktu pergantian jam kuliah. [kirana].

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here