foto Liputan6

Surabaya –┬áKopri PKC PMII Jatim akan mengadakan Talkshow Sekolah Kader Kopri (SKK) Tahun 2017 di Ruang Theater Lantai 2 Gedung Twin Tower A Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya pada Sabtu (11/11/2017) pukul 13.00 siang.

Panitia mendatangkan Mensos yang juga Calon Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa sebagai keynote speaker. Ini karena tema acara yang diambil adalah ‘Perempuan sebagai Pahlawan Revolusioner Peradaban Jawa Timur’.

Narasumber lainnya adalah anggota DPR RI dari Fraksi NasDem Hasan Aminuddin, Wabup Lamongan Kartika Hidayati dan anggota DPRD Jatim dari Fraksi Gerindra Anwar Sadad. Sebagai moderator adalah Moch Mubarok Muharam.

Rektor UINSA Prof Abd A’la yang sedang menghadiri konferensi di New Delhi India ketika dikonfirmasi beritajatim.com, Sabtu (11/11/2017) mengatakan, bahwa acara Kopri PKC PMII Jatim yang mendatangkan Khofifah itu belum ada pemberitahuan ke pihak rektorat. Dirinya juga mengaku tidak tahu menahu acara tersebut.

“Lho, saya kok tidak tahu (acara Kopri PKC PMII Jatim di UINSA). Tidak ada izin tentang hal ini. Insya Allah, acara itu bukan di UINSA, karena hari ini UINSA sedang listrik padam. Ada perbaikan trafo. Kebetulan listrik hari ini mati,” tuturnya.

Dia menegaskan, pihak kampus tidak akan melarang siapapun calon gubernur untuk menyampaikan visi misinya di lingkungan kampus. Tetapi, listrik di UINSA pada hari ini memang sedang ada pemeliharaan. “Kami akan faslilitasi semua calon untuk menyampaikan visi dan misinya. Saya berharap jika sudah masa kampanye dibuka, semua calon bisa menyampaikan programnya di UINSA,” tegasnya.

Sementara itu, aktivis yang juga pengacara muda, Arif Fathoni menanggapi bahwa kampus justru harus jadi panggung adu ide dan gagasan calon pemimpin Jatim, karena kampus itu adalah miniatur negara.

“Kalau di luar kampus terjadi politik transaksional, maka kampus harus membuka diri sebagai panggung politik ide dan gagasan. Kampus tidak boleh alergi politik,” jelas Ketua Ormas MKGR Kota Surabaya ini.

Dia menegaskan, kalau kampus sudah alergi terhadap politik gagasan, hal itu merupakan lampu kuning demokrasi. “Kita bubarkan saja organ-organ ekstra kampus, organ intra dan lain sebagainya. Saya sepakat Rektor PTN harus netral, komitmen netralitas harus ditunjukkan dengan memfasilitasi semua calon pemimpin untuk menunjukkan dan mengemukakan apa gagasannya dalam membangun Jatim yang Jer Basuki Mawa Bea,” paparnya.

Suber

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here