Gambar Hanya Ilustrasi

BLITAR – Bisnis menyewakan kamar kos untuk praktik esek-esek ternyata sudah menjadi rahasia umum di Kota Blitar, Jawa Timur.

Diketahui, mayoritas tempat kos menyediakan kamar khusus untuk disewakan ke tamu dengan tarif per jam.

Melansir dari Surya, ada tren baru yang beredar, penyewa kos menyewakan lagi kamarnya ke orang lain untuk mesum.

Hal ini diungkapkan oleh Alex (bukan nama sebenarnya), ia adalah seorang warga Sananwetan, Kota Blitar, yang menyewa satu kamar kos di wilayah tersebut.

Ia menyewa kamar kos yang memiliki fasilitas AC dengan tarif Rp 750 ribu per bulan.

Ternyata, ia tidak menempati kamar kos itu setiap hari, melainkan ia pakai hanya saat bersama pasangannya .

Karena kamar kos itu sering kosong, Alex pun memiliki ide untuk menyewakan kembali kamar tersebut ke orang lain dengan tarif per jam.

Tentu saja, ia tidak aka sembarangan menyewakan kamar kosnya tersebut ke orang lain.

Ia akan menyewakan kamarnya hanya kepada orang-orang yang sudah dikenal.

“Kalau ada teman yang butuh tempat dengan pasangan, saya suruh pakai kamar kos saya. Tarifnya lebih murah dari pada sewa hotel,” kata Alex.

Alex pun mengaku bahwa dirinya mematok tarif sewa kamar mulai dari Rp 100 hingga Rp 150 ribu untuk tiga jam.

Tarif ini pun tergolong murah dibandingkan sewa kamar di hotel.

Bahkan, dalam sebulan Alex bisa menyewakan kamarnya sebanyak tiga hingga empat kali.

“Hasilnya bisa buat bayar sewa kamar ke pemilik kos. Saya sendiri juga butuh kamar kos, meski saya juga tinggal di Kota Blitar,” ujar pria yang sudah berkeluarga itu.

Menurutnya, hampir mayoritas tempat kos di Kota Blitar memang digunakan untuk bisnis esek-esek.

Ia juga mengaku sudah berkali-kali pindah ke tempat kos dan rata-rata tempat kos yang ia tempati tergolong bebas.

Malah, ada tempat kos yang menyediakan satu kamar khusus untuk menyediakan tamu berpasangan yang ingin menyewa per jam.

Seperti di tempat kos yang sekarang dia tempati, pengelola menyediakan satu kamar khusus disewa per jam.

Menurutnya, penghuni satu kamar itu selalu berganti-ganti tiap hari.

Penghuninya juga selalu berpasangan laki-laki dan perempuan.

Ternyata, satu kamar di tempat kosnya itu memang disewakan dengan tarif per jam. Tarif sewanya Rp 200.000 per lima jam.

Pengelola biasa menyebut sewa kamar kos dengan tarif per jam itu dengan istilah drive thru.

Maksud istilah itu penyewa hanya mampir sebentar di kamar kos lalu pergi lagi.

Penyewa tinggal datang ke lokasi sambil bilang cari kamar drive thru ke pengelola.

Pengelola segera menyiapkan kamar tersebut ke penyewa.

“Kalau tarif memang berbeda-beda, tergantung fasilitas kamarnya. Rata-rata tempat kos menyediakan itu, kalau tidak ya tidak laku. Tren seperti ini mulai ramai akhir 2016,” katanya.

Sekretaris Satpol PP Kota Blitar, Hariyanto pun membenarkan adanya praktik orang menyewa kamar kos lalu disewakan lagi ke orang lain.

Menurutnya, petugas Satpol PP juga pernah menemukan praktik seperti itu ketika menggelar razia di tempat kos.

“Kami mengakui memang ada praktik seperti itu (orang menyewa kamar kos untuk disewakan lagi). Itu menjadi tren baru yang kami temukan,” kata Hariyanto, pekan lalu melansir dari Surya kembali.

Hariyanto menjelaskan penemuan petugas saat razia itu pelakunya masih pelajar.

Diketahui, pelajar itu menyewa beberapa kamar kos di sejumlah tempat kos yang berbeda-beda.

Lalu ia menyewakan lagi kamar kos tersebut ke teman-temannya yang membutuhkan kamar untuk bermesraan dengan pasangan.

Kamar kos itu sendiri disewakan dengan tarif Rp 50 ribu per jam.

“Pelajar itu menyewa empat kamar kos di tempat yang berbeda-beda. Dari menyewakan kamar itu, tiap bulan dia bisa dapat penghasilan Rp 2 juta, itu sudah bersih,” ujar Hariyanto.

Petugas mengetahui modus seperti itu ketika menemukan ada pasangan yang terjaring razia di dalam kamar kos.

Saat diperiksa identitasnya pun tidak sama dengan identitas penyewa kamar kos aslinya.

Petugas pun menginterogasi pasangan yang terjaring di kamar kos dan mendapatkan pengakuan bahwa mereka menyewa kamar kos dari temannya.

Hariyanto juga berpendapat bahwa praktik seperti itu juga bisa jadi ditemukan di tempat kos lain.

Tetapi, sejauh ini petugas Satpol PP belum menemukan lagi kasus seperti itu.

Ia juga mengakui bahwa banyak tempat kos yang disalahgunakan untuk bisnis esek-esek.

Setiap menggelar razia, petugas Satpol PP selalu menemukan pasangan bukan suami istri yang berduaan di dalam kamar kos.

“Memang banyak kami temukan seperti itu, perempuan penghuni kamar kos menerima tamu laki-laki di dalam kamar,” ujarnya.

Petugas Satpol PP sudah meminta ke pemilik tempat kos agar menertibkan penghuni yang menyalahgunakan tempat kos untuk berbuat mesum.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here