Ilustrasi Kopi Pangku

JatimUndercover – Sabtu merupakan akhir pekan yang cocok untuk berkumpul dengan keluarga ataupun teman untuk menghilangkan rasa penat setelah seminggu bekerja. Terkadang masyarakat sekitar berkumpul hanya sekedar ngopi dan mengobrol ringan. sehingga ngopi seolah – seolah sudah menjadi salah satu rutinitas yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan masyarakat. Baik dari kalangan muda  hingga tua pun menggemari budaya ngopi. namun tak lengkap rasanya ketika mengopi tidak di luar. Banyak tempat ngopi yang tersedia di Kota Surabaya sekitar atau pun di daerah – daerah pelosok yang ada di provinsi Jawa Timur. Tempat ngopi pun bervariasi dari tempat tongkrongan mengengah ke atas hingga menengah kebawah, seperti restoran, caffe-caffe corner, food court, angkringan hingga warung – warung di pinggir jalan.

Namun terdapat salah satu tempat ngopi yang memiliki nama agak aneh jika orang pertama kali mendengarnya yaitu ‘Warung Kopi Pangku’. Orang yang pertama kali mendengar mungkin mengasumsikan sebuah tempat ngopi yang dapat memangku kopi. Jika dilihat secara seklias sebenarnya Warung Kopi Pangku tidak jauh berbeda dengan warung – warung pada umumnya yaitu pembeli hanya membeli kopi dan mengobrol dengan temannya.

Tetapi kenapa disebut dengan Warung Kopi Pangku ? Penjual dari warung kopi pangku inilah yang membedakan warung kopi ini dengan warung – warung lainnya. Para penjual kopi kebanyakan dari wanita meskipun terdapat beberapa pria juga yang membantu dalam proses penjualan kopi. Dalam satu warung terdapat dua sampai tiga wanita  penjual kopi, dengan menggunakan busana yang minim dan ketat. Penjual terdiri dari usia dua puluh tahun hingga 30 tahun.

“ya biasanya dinamain kopi pangku soalnya penjualnya bisa pegang – pegang dan di booking juga. penjual di warung kopi pangku ini biasanya dari pendatang mbak ada juga yang asli dari daerah mojoagung.” Tutur JS salah satu pembeli kopi pangku. Pembeli di Warung Kopi Pangku mulai dari anak – anak usia enam belas tahun hingga bapak – bapak uisa 40 tahun. Biasanya pembeli datang dengan gerembolan teman, terdapat juga yang datang dengan membawa pasangan.

Warung kopi ini rame jika terdapat penjual yang mau menemani dengan masih muda dan cantik. Dari hal tersebut pun mempengaruhi harga jual kopi dan lama duduk konsumen yang berada di warung. Karena harga jual kopi per warung berbeda – beda. Harga kopi pun bervariasi mulai dari harga Rp.5.000,00 – Rp.10.000,00 lama duduk pun juga terhitung. Salah satu warung menetapkan tarif Rp.2.000,-/jam. Namun bagi pelanggang tetap tarif duduk tidak dihitung.

Mulai malam pejual kopi tidak hanya menjual kopi namun juga  obat – obat terlarang. “yang dijual juga ndak kopi aja mbak, kadang pil koplo (narkoba) tergantung yang ngopi mbak” jelas JS. Bagi pelanggang tetap biasanya langsung di layani  dengan langsung membuatkan kopi dan tawari obat terlarang. Tidak hanya itu pelanggan pun tidak perlu memboking untuk membawa penjualnya. Terkadang penjual di tumpangi atau di antar pulang oleh pelanggang. ‘biasanya kalau udah tutup ada pembeli kopi itu ada yang nugguin mbak – mbaknya beresin warung terus di tumpangi pulang, tapi ndak tau juga se pulang atau mampir – mapir dulu.”

baca selengkapnya

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here